-->

Semarang dalam Sejarah Seni dan Ragam Budaya

Semarang dalam Sejarah Seni dan Ragam Budaya


Bahanatour.net - Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Sejarah dimulainya Semarang pada abad ke-6. Semarang awal mulanya  merupakan Bagian Kerajaan Mataram Kuno dengan nama Pragota atau lebih dikenal dengan nama Bergota yang dulunya adalah pelabuhan dengan gugusan pulau kecil.

Nama semarang bermula ketika pada abad ke-15 seorang Pangeran dari Kerajaan Demak menyebarkan ajaran agama Islam dimulai dari wilayah pragota, karena wilayah pragota memiliki lahan yang subur makan oleh Pangeran Made Pandan ditanami pohon asam areng, dari situlah cikal bakal nama Semarang.
Seiring berjalannya waktu Kota Semarang banyak mengalami perubahan dan kemajuan. Kota Semarang telah berubah menjadi Kota Metropolitan dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa dan menjadi kota terbesar kelima di Indonesia.

Berkembangnya kota semarang tidak membuat Keragaman Budaya yang sudah terbentuk berabad dahulu luntur. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih adanya perkampungan dengan ciri khas dari berbagai etnis seperti Kampung Pecinan yang banyak dihuni oleh Keturunan Tionghua, Kampung Kauman merupakan Pemukiman Arab, ada juga Kota Lama yang saat ini menjadi destinasi wisata keluarga bagi warga semarang dan sekitarnya, maupun wisatawan dari luar kota semarang.

Berkunjung ke Kota Semarang rasanya kurang lengkap kalau tidak menyusuri jejak masa lampau yang dapat diabadikan dalam jepretan foto. Ada tempat menarik yang menggambarkan Keberagaman Budaya dan  Sejarah kota semarang
Semarang dan budaya
image by wikipedia
Dimulai dari Utara Kota Semarang tepatnya di Jl. Letjen Suprapto, terdapat sebuah Gereja yang merupakan peninggalan Belanda. Gereja ini adalah Gereja Blenduk yang dibangun tahun 1753, hingga saat ini masih digunakan untuk Beribadah. Nama Blenduk diberikan oleh warga sekitar karena kubah gereja yang menggelembung. Tapi  sebenarnya nama dari Gereja Blenduk adalah Gereja GPIB Immanuel.

Selanjutnya adalah Lawang Sewu. pada masa penjajahan Lawang Sewu merupakan pusat kantor pengelola layanan kereta api swasta milik Belanda, dibangun tahun 1904-1907. Lokasinya di depan bundaran Tugu Muda, meskipun bernama Lawang Sewu/seribu pintu faktanya pintu yang ada tidak sampai seribu. Lawang Sewu juga menjadi saksi Pertempuran lima hari yang terjadi di kota Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). karena mempunyai  nilai Sejarah yang tinggi, Pemerintah Kota Semarang memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu bangunan kuno yang dilindungi.

Selanjutnya bergeser di sebelah barat kota semarang  terdapat Klenteng Sam Poo Kong, yang menjadi tempat ibadah penganut Konghucu terbesar di Semarang dan juga merupakan tempat wisata. Bangunan ini menjadi saksi sejarah hadirnya Laksamana Cheng Ho asal China yang menelusuri Laut Jawa untuk tujuan dagang dan politik . Menariknya, klenteng ini sudah melebur dengan budaya Jawa, terlihat dari beberapa tempat pemujaan yang bernama khas jawa. Misalnya, Kyai Juru Mudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi, dan Mbah Kyai Tumpeng.

Layak jika beberapa waktu lalu kota Semarang memperoleh penghargaan sebagai Kota Terbaik Nasional. Semarang juga merupakan kota yang mempunyai Nilai toleransi tinggi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel